bergabung dengan Mardi Yuana. Kami, para Seminaris tinggal di asrama, sekolah juga dalam asrama. Kami hanya boleh keluar pada hari Minggu pagi sampai siang. Selain itu pada hari Senin siang ke lapangan Sempur untuk bermain bola dan Sabtu ke Milakencana untuk berenang.
Permulaan di Seminari, saya butuh penyesuaian bukan karena gaya hidupnya yang banyak di dalam, ini tidak ada kesulitan karena dari dulu juga saya sering disebut orang rumahan alias betah di rumah. Tetapi karena 99% siswa Seminari waktu itu orang dari Jawa, entah Jawa Tengah atau dari Lampung, para transmigran dari Jawa. Mereka nyambung dalam komunikasi saya yaa banyak dengar saja.
Di kelas dua SMA (kelas lima Seminari) rupanya Tuhan memberikan berkat yang besar pada saya, saya sembuh dari penyakit saya melalui mantan guru SMP dengan diberi campuran daun singkong dan kapur beberapa kali. Berkat Tuhan inilah yang membuat panggilan menjadi tumbuh. Dan pada waktu itu juga, saya sudah lebih bisa berbaur dengan teman-teman yang lain, baik yang sekelas maupun seluruh Seminaris yang lain. Pada waktu itu, anak Seminaris berjumlah sekitar seratus empat puluh orang dan semua laki-laki, guru-guru pun kebanyakan laki-laki.
Pernah pada suatu hari kami (berenam) kabur dari Seminari untuk nonton film anak muda, Gita Cinta di SMA. Keesokan harinya Rektor kami memanggil teman-teman saya satu persatu dan mereka mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatan-perbuatannya. Hampir seminggu saya tak dipanggil-panggil oleh Rektor. Akhirnya saya tidak tahan, saya menghadap Rektor dan mengaku bahwa saya juga ikut kabur. Rektor kaget mendengar pengakuan saya, karena Beliau tak menyangka bahwa saya ikut nonton, karena sepengetahuan Beliau saya anak baik-baik dan hampir tak pernah melanggar aturan-aturan Seminari yang ada. Lalu
0 komentar:
Poskan Komentar