Senin, 08 Februari 2010

4

Beliau menasehati agar kalau saya mau nonton ya nonton TV saja di Seminari. Keluar dari kamar rektor, ada rasa sesal, mengapa saya menyerahkan diri. Ya itulah kalau kita berbuat dosa, pasti dihantui rasa salah.
  
Menjelang akhir di Seminari (waktu itu kelas 7C) saya merasa bosan tinggal di Seminari, rasanya saya hidup di antara tembok-tembok yang tinggi. Jenuh. Seizin Rektor saya berbicara dengan orang tua mengenai masalah tersebut. Orang tua saya berkata supaya saya pikir-pikir dulu jangan cepat-cepat keluar. Akhirnya saya terus setelah orang tua (mami) mengatakan yang dulu mau masuk Seminari kamu ya, kalau keluar kemauan kamu sendiri, (papi) orang lain bisa, mengapa kamu tidak? Kata-kata itulah yang menjadi pegangan saya setiap kali mengalami kekeringan rohani. Kejenuhan, malas, tak bersemangat dalam menjalankan Panggilan ini.
  
Sebelum lulus Seminari Menengah saya konsultasi dengan Mgr Geise, dan Beliau menyarankan saya yaitu masuk Seminari Tinggi di Bandung saja, karena saya orang Bogor, putra daerah katanya, ngapain jauh-jauh atau berkarya di tempat lain, di sini saja masih memerlukan imam. Sejak keinginan menjadi imam ada dalam diri saya, saya berangan-angan selalu untuk masuk Fransiskan (OFM). Dan, memang pada waktu itu imam-imam yang berkarya di Keuskupan Bogor kebanyakan imam Fransiskan.
  
Akhirnya setelah lulus Seminari, saya mengikuti tes di Bandung, untuk meneruskan cita-cita saya menjadi imam Keuskupan Bogor (projo). Saya berangkat sendiri, padahal belum pernah ke Bandung. Syukur di jalan ada yang berbaik hati untuk menunjukkan jalan ke Seminari. Ternyata dia juga mau tes untuk ke Seminari. Dari Seminari Menengah Bogor, ada 4 calon dan dari luar seminari

0 komentar: