Senin, 08 Februari 2010

7

kami. Suka duka kami ceritakan bersama. Tertawa dan hiburan silih berganti.
  
Awal tahun 1989 selesai kuliah saya menjalani Tahun Pastoral, bertugas di Paroki Kristus Raja di Serang. Persiapan untuk tahbisan Diakon dan Imamat. Udara yang panas tak membuat panggilan saya menguap melainkan bersemangat. Tugas-tugas saya tidak jauh sewaktu TOP di Sukasari. Agustus saya ditahbiskan diakon di Katedral Bogor. Dan, 4 Februari 1990 saya ditahbiskan menjadi imam di St. Paulus Depok. Yang menerima tahbisan imam pada waktu itu ada 6 orang dan semuanya untuk imam Keuskupan Bogor.
  
Sejak ditahbiskan, saya menjadi Pastor Pembantu di Serang. Selain misa di Paroki dan Lingkungan-lingkungan, juga misa di stasi Cilegon, Merak dan Anyer karena semuanya masuk Paroki Kristus Raja Serang. Sebagai imam muda memang saya bersemangat untuk menjalankan tugas-tugas seorang Gembala. Masih ditambah mengajar agama di SMP dan SMA Serang dan SMP Cilegon. Yang waktu itu ditempuh dengan kendaraan motor. Lebih cepat dan tepat.
  
Pernah sewaktu misa di Merak pulangnya hujan deras dan lama. Akhirnya saya naik bus kembali ke Pastoran Serang. Esok-nya motor saya diantar kembali oleh umat Merak, dan yang menarik bensin sudah diisi penuh. Menggembirakan memang.
  
Kami berdua, saya dan pastor pembantu yang lain sering mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan Pastor Paroki. Akibatnya kami merasa jauh. Dan rupanya bukan dengan Pastor Paroki saja kami jauh, namun juga dengan Uskup. Itulah yang membuat saya kecewa. Apalagi Uskup tak mau mendengar pendapat kami.

0 komentar: