Kekecewaan yang mendalam membuat saya bertanya-tanya dalam hati, apa saya nggak salah menjadi imam? Apa menjadi imam itu harus menanggung derita salib yang berat? Sudah tak nikah harus susah pula. Memakan waktu lama untuk menata kembali panggilan saya. Dan saya menang. Masa hanya karena kecewa saya harus menanggalkan jubah? Saya harus buktikan bahwa saya bisa jadi imam dan jadi imam yang baik. Itulah pegangan saya selanjutnya dalam menyelami imamat saya.
Sebelum bertugas di Seminari, saya sempat bertugas di Paroki Bunda Maria Tak Bernoda di Rangkasbitung selama setahun. Selain tugas yang saya jalani sama dengan tugas pastoral saya di Serang, saya pun mengajar agama bagi mereka yang bersekolah di sekolah negeri. (Mardi Yuana di Rangkas hanya ada TK,SD dan SMP) dan juga SPK (Sekolah Perawat). Umat yang lebih sederhana daripada umat di Serang. Stasi yang berjauhan, Teluk Lada, Labuan, Pandeglang, Cikotok dan Cirotan (tambang emas, baratnya Jawa Barat).
Rangkasbitung juga memiliki Gua Kanada (Kampung Narimbang Dalam). Yang tentu saja pada bulan-bulan Maria (Mei dan Oktober) banyak dikunjungi peziarah. Sehingga pastoral peziarah pun harus ditangani.
Umat Rangkas adalah umat beriman setiap ada misa pasti ikut serta. Sabtu sore misa, Minggu pagi misa, siang ikut lagi misa di Gua. Kalau imamnya ada satu, ya harus bikin kotbah tiga dengan bacaan yang sama. Itulah yang berat, karena umat yang ikut sama saja. Itu-itu saja.
Awal tahun ajaran baru saya sudah tinggal di Seminari Stella Maris Bogor, siap untuk mengajar anak-anak Seminari. Hari-hari banyak dihabiskan untuk mengajar dan bergaul dengan anak-anak Seminari terutama yang masih baru-baru. Masih punya ambisi yang besar namun kadang rapuh bila berhadapan dengan halangan-halangan. Selain mengajar untuk tahun pertama, saya kalau Sabtu Minggu membantu di Paroki Sukasari dan tahun kedua sampai seterusnya saya membantu di Paroki Katedral Bogor.
0 komentar:
Poskan Komentar