Menyenangkan berada di tengah-tengah kaum muda, apalagi kaum muda ini adalah calon-calon imam, harapan gereja di masa yang akan datang. Menarik juga karena mereka punya bakat yang beraneka sehingga Seminari bisa hidup dan berkembang. Ada siswa Seminari yang menjadi juara dalam kelulusan, banyak juga yang berbakat seni.
Kenakalan anak Seminari tak jauh berbeda dari tahun ke tahun. Karena masih muda, ya perlu makan banyak. Karena itu ada yang melanggar, makan tidak pada waktunya. Muda juga berarti bebas. Rambut panjang padahal berlawanan dengan aturan sekolah yang ada. Kabur karena jenuh dari Seminari, bahkan tidak kembali lagi ke Seminari.
Seminari merupakan sekolah orang hidup bersama yang penghuninya dilatih untuk bekerja sama, saling membantu, saling berbagi, dan juga saling menguatkan. Selain itu perlu juga mengembangkan pengetahuan. Belajar terus-menerus dan tak pernah selesai sebagai manusia yang senantiasa bertanya.
Setiap musim libur tiba anak-anak pulang. Seminari diperbaiki. Ibu-ibu masak libur. Para imam yang berkarya di Seminari juga libur. Kosong. Itulah enaknya tugas di Seminari anak libur guru libur. Dan liburnya banyak, liburan panjang anak sekolah, Paska, Natal, Lebaran. Hanya sebagai imam Paska dan Natal tak libur.
Sembilan tahun di Seminari membuat saya menjadi Pater Bonus (gembala yang baik). Mau tidak mau karena hidup saya menjadi contoh bagi anak-anak Seminari. Yang tadinya merokok jadi berkurang bahkan berhenti karena malu di depan anak-anak. Merokok di kamar membuat kamar bau. Harus tepat waktu bahkan sebelum waktunya. Pokoknya segala tingkah laku kita diperhatikan dan dinilai. Karena itu, pada waktu itu sulit sekali untuk melakukan dosa. Berbuat dosa pun tidak bisa.
Lama di Seminari membuat segalanya menjadi biasa. Ide-ide baru sulit sekali untuk muncul karena itu saya bersyukur bisa ke Paroki untuk menyegarkan panggilan saya sebagai seorang imam. Saya berhadapan lagi dengan Umat Allah.
Dari Seminari saya pindah ke Paroki St. Matias Cinere. Dua
0 komentar:
Poskan Komentar